Waktu Gempa Berkekuatan 200 Kali Bom Hiroshima Guncang Sulawesi Tengah

Gempa Berkekuatan 200

Masyarakat mengevakuasi kantong jenazah berisi jasad korban tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Gelombang tsunami setinggi 1,5 mtr. yang menerjang Palu berlangsung sesudah gempa bumi mengguncang Palu serta Donggala.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 pada jam 17.02.44 WIB. Gempa itu menyebabkan tsunami di sejumlah lokasi pantai Donggala serta pantai Talise Palu.

Tsunami menerjang Pantai Talise di Kota Palu, pantai Barat Donggala. Tingginya 0,5-3 mtr. serta menerjang permukiman di selama pantai. Bahkan juga dimaksud ketinggian ada yang sampai 6 mtr..

Banyak bangunan ambruk, rata dengan tanah. Jembatan juga rubuh memutuskan akses jalan. Komunikasi terputus, listrik padam.

Berdasar pada data sesaat dari Tubuh Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), korban wafat karena gempa serta tsunami di Palu, Sulawesi Tengah sampai 384 jiwa. Mereka menyebar di beberapa rumah sakit.

“Ini cuma terdaftar di kota Palu,” kata Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa wartawan di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Diprediksikan jumlahnya korban gempa serta tsunami selalu makin bertambah sebab proses penelusuran masih tetap selalu dikerjakan. Selain itu, korban luka berat 540 orang.

Kepala Pusat Data Info serta Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberi pemaparan tentang efek gempa bumi serta tsunami di kota Donggala serta Palu, Sulawesi Tengah waktu pertemuan wartawan di Jakarta, Sabtu (29/9).

Sampai jam 16.00 WIB terdata ada sekitar 16 ribu lebih pengungsi korban gempa serta tsunami Palu, Sulawesi Tengah.

“Ada 16.732 pengungsi di 24 titik. Di Palu ada 24 titik. Mesti kita penuhi keperluan basic. Belumlah semua terima pertolongan. Semua hanya terbatas serta kita konsentrasi mencari korban,” Sutopo.

Menurut Sutopo, ada 13 kecamatan di Donggala yang sangat banyak terima intensitas gempa 6 sampai 7 MMI. Sesaat di Palu ada tujuh kecamatan yang terima guncangan dengan taraf yang sama.

“Donggala belum juga mendapatkan info apa pun. Komunikasi masih tetap lumpuh,” jelas dia.

Selain itu, 131 gempa susulan berlangsung di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Rentetan itu berjalan sesudah gempa dengan magnitudo 7,4 pada Jumat 28 September 2018.

Seseorang pria mengecek rusaknya karena gempa serta tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Gelombang tsunami setinggi 1,5 mtr. yang menerjang Palu berlangsung sesudah gempa bumi mengguncang Palu serta Donggala

Deputi Tehnologi Industri Rancang Bangun serta Eksperimen Tubuh Pengkajian serta Aplikasi Tehnologi (BPPT) Wahyu W Pandoes menyebutkan, daya gempa magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah, seputar 2,5 x 10^20 newton mtr..

“Gempa dengan magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah, dayanya seputar 2,5×10^20 Nm atau sama dengan 3×10^6 Ton-TNT atau 200 kali bom atom Hiroshima,” tutur Wahyu dikutip dari Pada, Sabtu (29/9/2018).

Dalam tayangan wartawan BPPT di Jakarta, Wahyu menuturkan, Kota Palu, Kabupaten Donggala, serta sekelilingnya alami deformasi vertikal atau pergantian bentuk yang disebabkan oleh style sebesar -1,5 sampai 0,5 mtr. karena gempa.

“Komponen deformasi vertikal gempa bumi di laut ini yang punya potensi memunculkan tsunami,” kata Wahyu.

Berdasar pada simulasi jenis analitik-numerik, tinggi tsunami di selama pantai sekitar pada beberapa sentimeter sampai 2,5 mtr.. Tinggi tsunami juga punya potensi naik karena dampak turunnya daratan seputar pantai serta amplifikasi gelombang karena batimetri (studi kedalaman air) serta morfologi (pembentukan) teluk.

“Penduduk butuh siaga atas gempa bumi susulan serta kekuatan keruntuhan infrastruktur atau bangunan di sekelilingnya, dan selalu memonitor serta ikuti info dari otoritas sah BMKG/BNPB/BPBD ditempat,” imbau Wahyu.

Wahyu menuturkan juga jika BPPT sudah mempunyai produk tehnologi Sijagat untuk membahas keandalan gedung bertingkat pada ancaman gempa serta Sikuat untuk memonitor keadaan gedung bertingkat pada ancaman gempa.

BPPT juga membuat Rumah Komposit Polimer Tahan Gempa untuk beberapa daerah riskan bencana gempa.

Kepala Pusat Data, Info serta Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, Sulawesi Tengah seringkali alami musibah gempa serta tsunami. Lebih, ada dua lokasi yang seringkali alami musibah itu seperti Palu serta Donggala.

“Memang lokasi Sulawesi Tengah, spesial lokasi Palu serta Donggala riskan berlangsung gempa serta tsunami,” kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9/2018).

Dia mengatakan, gempa dengan magnitudo 6,5 yang datang dari kegiatan tektonik Watusampo di teluk Palu sempat mengguncang pada 1 Desember 1927. Waktu itu 14 orang wafat serta 50 orang luka-luka.

Lantas, pada 30 Januari 1930, berlangsung gempa di pantai barat Kabupaten Donggala yang mengakibatkan tsunami setinggi dua mtr. serta berjalan saat dua menit.

Lalu, gempa bermagnitudo 6 yang berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang, Donggala, berlangsung pada 14 Agustus 1938. Gempa itu mengakibatkan tsunami 8-10 mtr. di pantai barat Kabupaten Donggala.

“Sekitar 200 korban wafat serta 790 rumah rusak dan semua desa di pesisir pantai barat Donggala hampir terbenam,” ucapnya.

Gempa juga berlangsung pada 1994 yang diketahui dengan gempa Sausu yang berlangsung di Kabupaten Donggala serta mengguncang Sulawesi Tengah. Pada 1 Januari 1996, gempa dengan magnitudo 7,4 yang berpusat di selat Makassar menyebabkan tsunami yang menyapu pantai barat Kabupaten Donggala serta Tolitoli.

Pada 1996 berlangsung gempa di Tonggolobibi di Desa Bankir, Tonggolobibi serta Donggala yang mengakibatkan tsunami setinggi 3,4 mtr. hadir serta membawa air laut sejauh 300 mtr. ke daratan. Waktu itu sekitar 9 orang meninggal serta bangunan rusak kronis.

“Pada 11 Oktober 1998 Kabupaten Donggala diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,5. Beberapa ratus bangunan rusak kronis karena gempa,” tutur Sutopo.

Sesudah itu, Sulawesi Tengah masih tetap alami musibah gempa yang berpusat di 16 km arah tenggara Kota Palu dengan magnitudo 6,2. Gempa itu berlangsung pada 24 Januari 2005 yang menyebabkan 100 rumah rusak, satu orang wafat serta empat orang luka-luka.

Lalu, gempa dengan magnitudo 7,7 berpusat di laut Sulawesi mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada 17 November 2008. Atas peristiwa itu, empat orang wafat.

Seseorang petugas service navigasi penerbangan bernama Anthonius Gunawan Agung wafat sekejap sesudah menjalankan pekerjaannya waktu gempa di Palu, Sulawesi Tengah.

Waktu gempa menggoyang Palu, Anthonius tengah ada di menara kontrol Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu untuk pastikan Batik Air terbang dengan selamat. Akan tetapi, tidak diduga atap ambruk karena gempa serta Anthonius langsung lompat dari menara.

Momen ini diberitakan oleh pengamat penerbangan serta investigator swasta spesial kasus-kasus kecelakaan pesawat, Gerry Soejatman dalam account twitternya. Dalam account twitternya, Gerry menulis jika Anthonius ialah seseorang petugas ATC yang melompat dari menara waktu gempa bumi mengguncang Palu sesudah dia pastikan Batik Air terbang dengan selamat.

Akan tetapi, sesaat lalu, account twitter sah AirNav @AirNav_Official menyampaikan kabar jika Anthonius sudah wafat.

AirNav Indonesia juga memberi animo pada dedikasi yang diperlihatkan personil Air Traffic Controller (ATC) Anthonius Gunawan Agung.

Direktur AirNav Indonesia Novie Riyanto menyampaikan, buat Airnav, Agung telah memberi dedikasi yang mengagumkan dalam memberi service untuk wujudkan keselamatan penerbangan. Keluarga besar Airnav Indonesia juga begitu berduka cita.

“Karenanya, kami akan memberi penghargaan pada almarhum dengan meningkatkan pangkatnya sekitar dua tingkat, dan bentuk animo yang lain pada keluarga yang dibiarkan,” papar Novie yang ada di Makassar, Sabtu (29/9/2018).

Dia menyampaikan, ke-2 orang-tua almarhum bertempat di Papua, tetapi keluarga besarnya banyak tinggal di Makassar.

“Hingga dari komunikasi kami dengan keluarga almarhum Agung gagasan akan disemayamkan di Makassar,” tutur Novie.

Dia menjelaskan, Agung memberi clearance pada Batik waktu gempa berlangsung. Personil AirNav yang lain yang sedang tidak melayani lalu turun waktu gempa berlangsung. Sesaat Agung belumlah bisa turun sebab pesawat belumlah take-off.

“Beliau menanti pesawat Batik sampai airborne. Sesudah pesawat airborne, keadaan gempa telah makin kuat. Beliau pada akhirnya akan memutus melompat dari cabin tower atau lantai 4, mengakibatkan Beliau alami patah kaki,” papar Novie.

Personil AirNav di Palu membawa Agung ke rumah sakit. Didalam rumah sakit didapatkan info tentang kondisinya sesudah keluar hasil rontgen, akan tetapi untuk perlakuan setelah itu mesti dirujuk ke rumah sakit yang semakin besar sebab tanda-tanda ada luka dalam.

AirNav berusaha untuk menghadirkan helikopter dari Balikpapan. Akan tetapi sebab keadaan bandara, helikopter baru bisa diterbangkan pagi hari ini. Agung lalu dibawa ke bandara untuk diterbangkan dengan helikopter ke arah Balikpapan.

Akan tetapi sebelum helikopter datang, Agung mengembuskan napas terakhir kalinya. “Almarhum akan diterbangkan ke arah Makassar untuk setelah itu disemayamkan di Makassar sama dengan keinginan pihak keluarga,” papar Novie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here