TKN Memberikan Komentar Terhadap Kepanikan Yang Dilakukan Oleh Kubu Prabowo-Sandi Terhadap Hasil Quick Count

Quick Count

Anggota dari Tim Kemenangan Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Inas N Zubir, memberikan sebuah komentar terhadap kandidat calon presiden nomor 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno terhadap quick count yang yang baru di publiskan baru-baru ini.

Seperti yang diketahui, hampir 90 persen lembaga survei menyatakan bahwa pasangan calon presiden dari 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin selalu berada diatas 50 persen sejak dari tahun lalu. Menurut Inas, ini menciptakan kepanikan bagi kubu Prabowo-Sandi.

“Alih-alih melakukan banyak sekali perbaikan untuk mengejar keterpilihan, bahkan kubu Prabowo-Sandi bersikap sangat elegan sekali dengan memanjakan diri dengan tipuan dan fitnah, penistaan ​​dan pelecehan terhadap pasangan Jokowi-Amin. Bahkan bisa dikatakan kubu dari Prabowo dan Sandi juga bertindak kekanak-kanakan dengan perilaku yang sangat tidak pantas yang timbul dari seorang negarawan,” ucap Inas dalam sebuah wawancara, di Jakarta, pada hari Minggu 21 April 2019.

Inas juga menambahkan, bahwa pasangan 02 belum berubah sikapnya dan masih berlanjut setelah pemungutan suara yang diadakan pada tanggal 17 April 2019. Kepanikan pada kubu Prabowo-Sandi terus bertambah dan akhirnya berubah menjadi keputusasaan karena tidak ada fakta bahwa hasil dari perhitungan quick count lembaga survei independen yang sama sekali tidak disukai oleh mereka.

Quick Count

Suara Jokowi-Ma’ruf Amin dalam versi quick count rata-rata berada pada 50 persen ke atas. Sebaliknya, suara pada kubu Prabowo-Sandi berada di bawah Jokowi-Ma’ruf dan selisihnya berkisar dengan 8-10 persen.

“Yang lebih buruk dari perilaku kubu Prabowo-Sandi adalah sebuah konstruksi narasi yang mengatahkan bahwa pasangan dari calon presiden 01, Jokowi-Amin menang dalam pemilihan presiden dalam cara yang curang, sebenarnya narasi ini sendiri adalah bentuk kecurangan di mana mereka mencoba untuk memimpin opini yang salah arah jika pemungutan suara di TPS yang dimenangkan oleh Jokowi itu merupakan sebuah hasil kecurangan,” jelas Inas.

Inas menilai perolehan suara ini sulit sekali untuk diterima oleh kubu Prabowo-Sandi. Oleh karena itu, ia percaya bahwa hasil dari quick count ini tidak akan jauh perhitungan yang dilakukan oleh KPU nantinya.

“Situasi yang sangat tidak menguntungkan ini membuat kubu Prabowo-Sandi terbalik, sehinggan dengan ini mereka kembali membuat sebuah narasi yang baru bahwa sebuah prilaku yang curang yang dapat membuat keuntungkan pada pasangan calon 01 terjadi mulai dari pemungutan suara dari tingkat terendah, apakah hal ini memang benar?” kata DPR RI, ketua Fraksi Hanura.

Quick Count

dia juga memberikan sebuah penjalan, berdasarkan Pasal 59 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, tujuh anggota KPPS dipilih langsung dari masyarakat di lingkungan sekitar TPS dan tentunya harus harus memenuhi syarat tertentu. Begitu juga dengan anggota dari Komisi Pemilihan Umum dan KPU RI. Khususnya untuk anggota KPU RI, kelima anggota takan dipilih langsung oleh Komisi II DPR, yang juga diisi oleh partai-partai pendukung dari kubu Prabowo-Sandi.

“Ini berarti bahwa KPPS, KPUD, dan KPU-RI dapat berisi orang-orang yang merupakan kandidat untuk 01 dan juga berisikan orang-orang yang yang berasal dari pasangan calon 02, dan keduanya memiliki kesempatan untuk menipu, terutama pada tingkat terendah, yaitu KPPS,” ucap tegas oleh Inas.

“Keputusasaan yang dirasakan oleh kubu Prabowo-Sandi semakin menjadi-jadi dengan sebuah wacana yang disampaikan oleh Amien Rais dan juga maraknya saat ini tulisan tentang People Power untuk menggerakkan massa ketika kubu Prabowo-Sandi dinyatakan kalah oleh KPU,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here